Sebagai negara yang relatif miskin penduduknya, Luanda pun mempunyai masalah yang sama dengan kota besar lainnya. Masalah yang paling berat adalah soal sampah dan kebersihan, di mana tidak adanya tempat pembuangan sampah akhir yang permanen sehingga sampah banyak dibuang di pinggir kota Luanda, terutama di daerah perkampungan kumuh Boa Vista dan di dekat pasar terbuka San Paulo.
Masalah lainnya adalah kemacetan yang luar biasa. Mirip dengan Jakarta, terutama apabila tinggal di daerah Luanda Sul (semacam suburb mewah di selatan Luanda), di mana para ekspatriat banyak tinggal. Mereka di Luanda Sul harus berangkat pagi-pagi benar sekitar jam 5.30pagi untuk sampai di kantor di Centro de Cidade (pusat kota) jam 6.30 pagi. Bila berangkat lewat dari jam 6 pagi, maka perjalaan bisa mencapai 1-2 jam.
Kemacetan ini terutama karena banyaknya mobil di Luanda, dikarenakan harga mobil relatif murah dibandingkan Indonesia, karena tidak ada pajak otomatif yang mencapai 100% seperti di Indonesia. Jadi mobil Toyota Corolla baru bisa diperoleh dengan harga USD20,000 saja atau sekitar Rp 180 juta. Selain mobil baru, di sini juga banyak dijual mobil bekas (second atau recond) dari Eropa. Harga mobil recond impor murah sekali, dengan hanya merogoh uang USD2,000 anda sudah bisa mendapatkan mobil Volvo, BMW atau Mercedes Benz.
Banyaknya mobil juga menyebabkan panjangnya antrian pompa bensin (bomba de combustivel), karena pompa bensin juga relatif sedikit. Antrian pompa bensin bisa mencapai 1-2 jam untuk setiap kendaraan. Antrian juga terjadi sampai larut malam. Jadi kalau membeli bensin akan lebih mudah kalau dilakukan dini hari, saat tidak ada antrian pompa bensin. Pompa bensin di sini juga menjual dua jenis bahan bakar, yaitu gasolinha (bensin premium) dan gasoleo (diesel). Sistem pompa bensin juga dilakukan secara manual lewat penjaga pompa bensin, hampir sama dengan Jakarta.
Masalah perkotaan yang lain adalah pedagang asongan, yaitu pedagang yang mengasongkan dagangannya di pinggir jalan. Di Luanda hampir tidak ada pedagang kaki lima, karena rutin dibersihkan oleh petugas Tramtib dan polisi setiap hari. Pedagang asongan pun harus terus waspada karena jika ada petugas, maka mereka akan lari tunggang langgang menyelamatkan dagangannya Sebab kalau ditangkap, petugas akan merampas semua barang dagangannya.
Pedagang asongan di sini biasanya menjual roti (pao), karena roti merupakan makanan pokok sehari-hari. Pao biasanya dijual dalam tas kresek, yang isinya 10 buah dengan harga Kz100 (USD1.25). Pedagang makanan asongan lainnya adalah sandwich, biasanya ibu-ibu dengan menaruh sandwich berupa roti panjang (pao) di dalam baskom yang besar. Satu buah sandwich asongan harganya Kz 50 (USD 0.625 atau Rp 5,625) dan cukup besar dan mengenyangkan.
Pedagang asongan lain adalah berjualan minuman, baik berupa minuman kaleng soft drink (Coca Cola, Fanta, Blue) atau pun bir (cerveja) yang biasanya bermerk Cuca (produksi Angola) atau Super Bock (produksi Portugal). Mereka juga menjual minuman tradisional Angola yang berasal dari jagung.
Barang-barang lain seperti buah-buahan (pisang, nenas, jambu biji dan apel) juga dijual secara asongan. Begitu juga dengan sayur-sayuran, tetapi biasanya mereka menjual di tempat tertentu dan sering disebut pasar kaget (mercado parallelo). Begitu juga dengan barang seperti hanger, sepatu, kaos, jam tangan, sabuk dan macam-macam.
Tetapi karena petugas Tramtib sering berpatroli dan sangat tegas, para pedagang asongan harus pandai bermain kucing-kucingan. Karena mobil petugas Tramtib juga sering datang dengan tiba-tiba, dan langsung merampas barang dagangan. Mungkin ketertiban patroli dan ketegasan petugas Tramtib di Luanda bisa dijadikan contoh. Tetapi susah kali ya..............
Tuesday, March 27, 2007
Masalah Perkotaan Luanda
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment