Saturday, April 29, 2006

Menjadi Lebih Baik

Salah satu ungkapan yang saya masih selalu ingat adalah tentang rahasia kebahagiaan. Atau secret of happiness. Secret of happiness is in doing what one like, not in liking what one does. Saya diberi tahu teman saya, sudah lama sekali. Tetapi entah kenapa, ungkapan ini terasa sangat mengena. Sehingga saya selalu berusaha menikmati apa yang saya lakukan, betapa itu mungkin membosankan dan mengesalkan buat orang lain.

Dengan begitu, memang ada benarnya juga, sehingga hati terasa selalu gembira. Tidak marah-marah, kesal, atau kemrungsung. Semua aktivitas hidup dijalani dengan senang hati, gembira dan bahagia. Tidak perlu menyesalkan kenapa harus melakukan aktivitas hidup ini.

Begitu juga di pekerjaan, bila saya harus melakukan sesuatu yang menjengkelkan, rapat misalkan. Selalu saya coba nikmati. Saya bisa belajar banyak hal dalam rapat, karena mendengarkan pendapat, analisa, informasi yang muncul. Ketika ada yang bertanya, apakah saya tidak bosan dengan rapat, saya pun hanya tersenyum saja.

Rasanya, ungkapan itu pun bisa diaplikasikan dalam semua kegiatan hidup. Dengan begitu, hidup lebih enteng, lega dan menyenangkan. Soal makanan misalkan, saya bisa menikmati semua jenis makanan. Karena saya menganggap makanan yang terhidang di depan saya adalah rezeki dan harus dinikmati.

Misalkan dulu di sebuah negara Arab sana, hampir tidak ada makanan Indonesia atau Melayu kecuali diundang makan di keluarga Indonesia atau Malaysia. Kebanyakan makanan adalah makanan India atau Arab.

Salah satu makanan India yang awalnya bisa saya nikmati adalah ayam panggang yang dijual dibelakang kompleks Istana. Ayam panggang itu relatif murah, harganya enam riyal atau sekitar Rp 15,000 untuk ayam setengah. Awalnya saya hanya makan ayamnya saja tanpa bumbu, karena bumbunya adalah saus bawang.

Sebagai orang Indonesia memang hanya memakan bawang putih sebagai bumbu penyedap saja, jadi awalnya agak sungkan menikmati saus bawang. Tetapi lama kelamaan, dicoba sedikit demi sedikit, akhirnya malah ayam panggang itu tidak terasa lezat kalau nggak pakai bawang. Padahal kalau di kalangan orang Indonesia, sering menyebut orang India sebagai orang bawang. Karena mereka memang suka bawang, dan baunya jadi mirip bau bawang.

Alhasil, mudah-mudahan hidup ini menjadi lebih ceria, tidak cepat putus asa dan selalu berprasangka baik kepada orang lain. Ini rasanya yang harus terus dipupuk sehingga hidup kita lebih berarti.

Secret of happiness is in doing what one like, not in liking what one does.

Saturday, April 08, 2006

Bangsa Sakit Hati

Syahdan di suatu masa, ada satu negara di daerah khatulistiwa yang kaya sumber daya alam dan banyak penduduknya. Namun entah kenapa, bangsa itu tidak bisa maju tetap saja menjadi negara terbelakang. Padahal bangsa-bangsa di sekitarnya sudah mulai menanjak naik statusnya dan lebih tinggi GDP-nya.

Negeri ini aneh sekali, karena penduduknya selalu merasa sakit hati. Sehingga layak disebut Bangsa Sakit Hati atau disingkat Bang Sakti. Tetapi bangsa ini masih sakit hati kalau dipanggil Bang Sakti, mereka lebih suka disebut lengkap yaitu Bangsa Sakit Hati. Meski pun maksud menyebut Bang Sakti tentunya baik, karena supaya terkesan lebih keren. Tetapi bangsa tersebut tetap tidak menerima dan merasa sakit hati dan dendam kepada orang-orang yang menyebut Bang Sakti.

Keanehan bangsa ini juga masih terjadi di bidang ekonomi. Di mana-mana orang senang kalau investor dari negara asing datang dan percaya untuk menanamkan uang. Tetapi Bang Sakti justru merasa sakit hati kalau ada investor asing datang dan menanamkan modal di negerinya. Sakit hati ini justru malah diluapkan dengan menunjukkan rasa ketidaksenangannya dalam bentuk demonstrasi dan pernyataan pemerintah Bang Sakti yang sangat memojokkan investor asing.

Apalagi di bidang pertambangan dan minyak bumi. Meski negeri itu kaya raya, tetapi bagaimana pun juga yang namanya tambang dan minyak bumi harus dieksplorasi dengan biaya dan resiko yang sangat tinggi. Tentu saja Bang Sakti merasa sakit hati kalau harus melakukan eksplorasi tambang dan minyak bumi sendiri. Sehingga Bang Sakti memberi kesempatan pada investor asing untuk melakukan eksplorasi dengan biaya sendiri. Dengan demikian Bang Sakti tidak perlu mengucurkan sepeser uang pun untuk kegiatan eksplorasi ini.

Sesudah kegiatan eksplorasi ini berhasil dan menemukan sumberdaya alam yang besar, Bang Sakti kembali merasa sakit hati karena tambang tersebut dikuasai oleh investor asing. Sehingga Bang Sakti mencoba melakukan berbagai daya dan upaya untuk menguasai kembali tambang tersebut. Kalau perlu atas nama nasionalisme Bangsa Sakit Hati.

***

Begitu juga di bidang lain, pemerintah Bang Sakti selalu sakit hati bila rakyatnya sejahtera. Sehingga pemerintah Bang Sakti tidak pernah punya program untuk menyejahterakan rakyatnya. Pemerintah Bang Sakti sakit hati kalau rakyatnya bisa menikmati jalan yang mulus, oleh karena itu dengan sengaja semua infrastruktur ditelantarkan.

Dalam pelayanan masyarakat pun, para pejabat dan punggawa pemerintah juga dihinggapi penyakit sakit hati. Mereka sakit hati kalau rakyatnya senang dan mendapatkan pelayanan yang cepat dan murah. Mereka akan bahagia bila orang lain sengsara. Dengan demikian semua pelayanan dibuat lambat, kalau mau dipercepat ya harus membayar lebih.

Meski pun ada beberapa rakyatnya yang mengeluhkan kinerja pemerintah Bang Sakti, sampai tidak tahan lagi dan mengajukan suaka ke negara lain. Mendengar pemerintah lain memperhatikan rakyat Bang Sakti, pemerintah Bang Sakti pun merasa tersengat ulu sakit hatinya dan memprotes sekuat tenaga. Mereka merasa sakit hati karena kok mau-maunya pemerintah lain ngurusin rakyat Bang Sakti? Lha pemerintah sendiri saja sudah menelantarkan.....

Adanya insiden suaka ini bukannya membuat pemerintah Bang Sakti memperhatikan rakyatnya, tetapi justru malah bertambah sakit hati dan menuduh orang lain berbuat onar dengan mengajukan suaka. Mungkin nanti dibuat undang-undang bahwa mengajukan suaka ke negara lain termasuk tindak pidana kriminal dan subversif.