Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kutemui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Itulah sebait lagu Kolam Susu yang laris di tahun 1960-an oleh kelompok musik Koes Plus, Beatles-nya Indonesia. Di situ terlihat betapa nyamannya tinggal di Indonesia, di mana terdapat berbagai kemudahan dan kenyamanan hidup. Tetapi itu membuat kita komplasen (complacent) karena merasa tanah air dan ibu pertiwi akan memberi segala kebutuhan hidup, sehingga menjadi malas.
Anggapan bahwa Indonesia adalah negeri kolam susu rasanya masih menancap dalam sanubari sebagian rakyat Indonesia. Kita selalu merasa bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya raya yang terletak di zamrud khatulistiwa. Perasaan ini akhirnya terluahkan dalam bentuk dan aspirasi nasionalisme. Paham nasionalisme lah yang secara tidak langsung menangkal investasi asing masuk ke Indonesia.
Investasi asing untuk Indosat selalu dianggap sebagai penjarahan aset telekomunikasi nasional Indonesia. Kurang disadari bahwa investor tersebut mengeluarkan uang untuk membeli Indosat dari pemerintah, dan menanamkan uangnya lagi untuk mengembangkan perusahaan. Anggapan bahwa itu merupakan penjarahan mungkin karena kita tidak tahu kemana perginya uang hasil penjualan Indosat.
Indonesia memang dianggap sedang bangkit dari krisis sehingga cukup banyak investor asing yang melirik Indonesia untuk menikmati kue perkembangan ekonominya. Apalagi didukung oleh pasar sebanyak 200 juta manusia Indonesia. Namun, mungkin karena paham nasionalisme, maka terjadi penolakan-penolakan investasi asing.
Hampir semua investasi asing di segala bidang dianggap merampok harta rakyat Indonesia. Walhasil, kebijakan publik tentang investasi asing pun menjadi tidak kondusif, sehingga banyak investor berlarian dari Indonesia. Dan ironinya seperti ditulis oleh Yosef Ardi, banyak taipan-taipan dari Indonesia justru gencar menebar uangnya untuk berinvestasi bukan di Indonesia tetapi di negara lain. Quo vadis investasi Indonesia?
Monday, March 06, 2006
Indonesia Bukan Kolam Susu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



6 comments:
posting ini kok kayaknya nggak mutu ya?
Thanks dah mampir nih, sori kalo ngga nyambung sama postingannya! hehehhee
guru saya juga ngajarnya salah. indonesia adalah negeri yg kaya raya, banyak hasil bumi, berbeda-beda agama tapi tetap satu and rukun. jadi waktu itu banyak murid yg males. ah kaya ini....hehe
orang Indonesia kan sudah trauma dijajah, dan menyamakan masuknya investor baru itu sebagai bentuk penjajahan yang baru... mungkin sih.. hehe
Atau orang Indonesia rasis kali? Anti asing? Eh mestinya enggak boleh digeneralisasi dong yah.
Mas Aris, numpang beken yah..:))
Post a Comment